Deklarasi IMM pada 1964 adalah naluri dan jiwa berbagai kumpulan anak manusia “bukan binatang” yang menginginkan satu generasi dengan tekad perubahan dan kemerdekaan atas dominasi sistem, kultur, sikap, sifat dan arogansi kekuasaan belaka. Kelahiran itu, bukanlah hal yang harus di tertawakan dan dipecundanggi oleh gagasan secuil diantara berbagai kelompok lainnya. Namun justru kelahiran itu adalah sebuah semangat dan revolusi baru dalam tatanan dinamika dakwah amar bil ma’ruf. Penegasan Djazman Alkindi dalam pidato kelahirannya bahwa Ikatan di restui oleh Tuhan demi melanjutkan titahnya dan IMM pun di rahmati untuk selalu melakukan “revolusi gagasan dan intelektual”.
Wacana Djazman Alkindi tidaklah pepesan kosong, ternyata IMM bak meteor dan sangat fenomenal yang melahirkan celotehan gerakan revolusi secara konsisten. Selain itu, IMM dalam perkembangannya sebagai arsitek yang kerap menampilkan sejarah pergerakan nasional yang kemudian bisa kita catat sebagai rekor fantastis yang berhasil membesarkan dirinya dengan cita-cita para pendirinya (Founding Fathers).
Cita dan identitas itu sebagai jalan alternatif untuk mengagungkan jati jiwa sebagai bentuk kemerdekaan dari prakarsa para penindasan sistem (masa kolonial) yang telah memporakporandakan peradaban pemikiran dan intelektual para generasi, sehingga peran amal ilmiah itu harus lahir dengan cara sistematis dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk mempertahankan manivesto penegasan dan prakarsa kelahirannya agar tidak kehilangan elan perjuangan. Sangat di sayangkan, apabila kader IMM kemudian memperjuangkan hanya kenikmatan dunia tanpa memikirkan kenikmatan surga Tuhan yang tercipta dalam kekuatan gagasan ilmiah, tulisan, ide, amaliah dan fastabiqul khaerat.
Kemunculan IMM merupakan pencahayaan dan harapan para generasi sebagai jalan untuk meluncur menuju langit – langit pencerahan dengan dapat menelan dan menggulung habis dunia kegelapan. Kita semua harus memahami kondisi kekinian yang justru menggeruskan tatanan moralitas yang tembus tanpa tapal batas dengan mengacak-acak status sosial, agama, ras dan penajaman kesadaran berkonflik. Sungguh ini merisaukan bagi generasi yang telah kehilangan masa depan cerah di masa dini. Maka oleh karena itu, IMM memiliki masa dan model tipologi kepemimpinan yang akan mampu menghadapi realitas yang membutuhkan rethingking gagasan dan revolusi intelektual agar pelajaran yang di sampaikan bisa mengeluarkan dari lubang hitam alam raya yang di sebabkan oleh gravitasi dahsyat krisis moral, yang daya sedotnya konon melebihi kecepatan cahaya.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai institusi atau sekelompok manusia pencerah dan merdeka, yang akan bisa merubah nasib rakyat, bangsa dan negara dengan sikap sederhana, jujur dan berani. Maka oleh sebab itu, kader IMM harus memahami dan faham betul nurani peradaban yang damai, bukan peradaban dari sebuah keserakahan sebagaimana yang dipertontonkan oleh kapitalisme/neoliberalisme saat ini. Memang harus di refleksikan bahwa hawa dingin dan panas menyelimuti proses sublimasi kaderisasi beriring dalam derap derup langkah ikatan yang terlacak dalam jejak-jejak semangat dan deklarasi nurani atas doktrin merah yang telah membumi di lubuk jiwa kita semua.
Tentu kiprah dari dasar hingga paripurna, penuh dengan kisah perjuangan yang abadi dalam panorama hidup penuh warna warni, sehingga ini merupakan peluru dan senjata untuk mampu bangkit dalam kesadaran paripurnanya dengan harapan dan tekad bahwa merah-Nya IMM suatu saat nanti akan selalu dihati setiap insan demi junjungan fastabiqul khaerat. Deru semangat terdengar syahdu dalam jiwa yang lekang akan tantangan. Kuncup bunga diatas pelataran sejarah merah merupakan kehangatan diantara bait-bait billahi fisabilillah fastabiqul khaerat yang ketika mampu melepas seluruh kader IMM dari kegundahan kulana “Mari Berjuang atas nama kebenaran Illahi”.
Setiap langkah dan memori narasi perubahan yang di lakukan IMM dengan slogan revolusi intelektual dalam naungan matahari Tuhan mengharapkan keselamatan dari amal dan ilmu yang telah di persembahkan semenjak dekade 60-an hingga 2012. Suara “siswa tauladan dan cendikia” itu selalu menjadi penguat hati sebagai doktrin terbaik dalam melukiskan cerita peradaban letter immawan immawati. Ketika langit senja dengan penuh warna yang tak lagi cerah, ada kalanya juga kader IMM terbelah dalam emosi tak tentu dengan memasang patsun-patsun dari ironi idealisme. Namun itu pasti ada batasnya, walaupun ada di antara kemalasan yang menjadi-jadi, prestasi yang terjal untuk didaki, dan konsistensi yang terus digali, ada harapan bahwa dialam sana, dimana sampai pada masanya akan terdapat junjungan nilai yang selalu memberikan kepercayaan pada semua insan pegiat peradaban damai itu. Percaya atau tidak bahwa tiap tetes keringat dari berbagai aktivitas yang dilakukan takkan sia-sia, bukanlah sekadar pelengkap kisah ketika menafak kaki di bumi ajaran merah, tetapi akan memberikan asa dan cita yang lebih dalam pemaknaan kehidupan itu.
Dan ketahuilah, bahwa simbolisasi Merah telah dibuktikan menjadi kenyataan sejarah dalam goresan tinta setiap siswa tauladan cendikia itu sebagai semangat pengembaraan dan jiwa yang terbakar untuk menegakkan api keadilan atas nama doktrin merah-Nya. Memang selama ini, kita semua belum bisa membuat IMM bangga dengan nilai-nilai intelektual, religiusitas dan humanitas, ataupun selaksa hal positif yang membelalakkan mata kita semua pada setiap rezim-rezim. Bahkan, lebih sering melagukan keluh nan kesah lewat senandung manja dalam sebuah fakta kaderisasi yang miskin akan daya penjelma progresif–revolusioner. Tetapi tak sedikitpun itu membuat kita sebagai kader menolak atas doktrin nilai-nilai kemanusiaan itu. Hal yang lain misalnya, terkadang kader IMM itu sendiri membelit dengan masalah, yang tak bisa di selesaikan secara arif dan bijak, walau itu seharusnya ditempatkan dalam sikap dewasa dalam setengah Abad ini. Padahal, berkali lipat masalah pasti telah kami jumpai dan rasakan. Namun berprinsip bahwa Dunia Ikatan yang membuat dunia kita juga ada. Dunia ikatan yang juga menjadi penyokong dunia kita untuk tetap ada. Seketika terjerembab dalam utofis, jangan pernah menyalahkan atas ketidakmampuan narasi intelektual namun ini adalah kenyataan yang menjadi sebuah kebudayaan yang memang sudah terjadi kemiskinan agregat gagasan intelektual. Kelahiran ikatan itu adalah pilihan yang telah kita sepakati bersama dan restu yang telah di gores oleh soekarno dengan tinta merah diatas secarik kertas “aku restui ikatan mahasiswa muhammadiyah merupakan “Super Power” atas goresan itu setinggi langit ketika zaman dalam transisi perubahan rezim, perubahan itulah yang ingin kita raih dan semangat secepat kilat yang ingin kita langkahi bersama.
Ikatan telah mempekikkan petuah yang bukan perintah, motivasi yang bukan sekadar penambal sangsi, dan kepercayaan yang bukan sekadar kebanggaan diri. Diantara masalah, IMM memberikan asa untuk pantang lelah menemukan solusi dari setiap masa peradaban ini. Sekalipun semua itu tak sedikitpun mengetahui apa yang sedang dihadapi oleh setiap kader IMM. Generasi IMM dengan revolusi intelektualnya untuk menjawab dan menjalankan kepercayaan itu yang pantang lelah menjejak untuk tidak mundur secara teratur. Sekalipun lidah berkesah, tetapi langsung segera membangun kembali. Mari kita petik kerinduan di setiap langkah ikatan dan kita menjadi api penyemangat di setiap jalan Merah-Nya IMM.
Penulis : Rusdianto Mahasiswa Magister Komunikasi Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta Dan Aktivis Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.